
Malam semakin larut. Namun dinginnya takmampu melawan panasnya hatiku. Pertanyaan ibu siang tadi serasa menohok ulu hatiku. Air mata tumpah membanjiri wajahku. Hanya itu yang bisa kulakukan. Ibu tidak memerlukan jawaban. Ibu butuh sosok konkrit. Seorang menantu yang akan mengusir rasa malu, membanggakan keluarga, dan memberikan seorang cucu. Masalahnya, saat ini aku belum menemukan sosok itu. Bukannya aku pemilih. Tapi kupikir wajar saja jika aku menentukan kriteria khusus untuk calon pendamping hidupku. Menikah tidak untuk sehari dua hari tetapi untuk selama-lamanya.
“Ratri, kedua kakakmu sudah menikah, sebentar lagi ibu akan pensiun, kamu pun sudah bekerja walaupun masih honorer. Sudah saatnya kamu menikah.Usiamu sudah 23 tahun loh, usia ideal untuk menimang anak. Apa kata orang Ratri, kalau putri ibu yang cantik ini dianggap perawan tua? Masyarakat itu tahunya kamu belum menikah. Mereka tidak tahu tahu kalau selama ini banyak lelaki yang ingin meminangmu. Nggak baik lho Nduk menolak laki-laki. Nggak ilok.”
Aku tidak menyalahkan ibu. Aku juga tidak menyalahkan diriku sendiri. Untuk masalahku ini tidak ada tokoh antagonis ataupun protagonis seperti dalam sebuah drama atau sinetron. Nggak mungkin kan aku menganggap suratan takdir sebagai tokoh antagonis. Betapa bodohnya aku. Betapa tidak berimannya aku. Ini jelas melanggar rukun iman yang keenam. Nauzubillahi min dzalik. Apa kata murid-muridku. Bu Ratri Pramuditya yang selalu memberi kultum sebelum mengajar ternyata menyalahkan takdir.
Aku bukannya tidak mau menikah. Sebagai seorang muslimah aku tahu kalau menikah itu merupakan sunnah Rasul dan dapat menyempurnakan din(agama). Tapi haruskah aku menerima pinangan laki-laki intelek tetapi dia hobi menyabung ayam, hanya gara-gara dikejar deadline untuk segera menikah? Mana mungkin aku harus menikah dengan laki-laki kaya yang tidak pernah shalat lima waktu walaupun dia berjanji siap untuk dibimbing? Aku jelas tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak menghargai perempuan. Seperti Ande-Ande lumut saja. Masak aku harus datang ke rumahnya agar orang tuanya lebih mengenalku! Harusnya dia dong yang ke rumahku karena aku pihak perempuan.
Oh ya, ibuku juga tidak bersalah. Sebagai orang tua, sangat wajar jika beliau mengharapkan putri bungsunya segera menikah. Ibu memang sudah memiliki empat cucu dari kakakku. Tapi ibu ingin menimang cucu dari putri kesayangannya. Apalagi kami tinggal di desa. Tahu sendiri kan bagaimana pandangan orang desa terhadap perempuan yang belum menikah. Di kampungku, masih banyak anak yang menikah begitu lulus SMP. Jarang sekali yang kuliah. Sementara aku sudah lulus kuliah dan bekerja tetapi belum juga menikah. Predikat perawan tua jelas sangat memalukan bagi keluargaku. Sering aku menjelaskan pada ibu, kalau teman-teman kuliahku masih banyak yang belum nikah. Tapi ibu selalu punya dalih untuk menggugurkan argumentasiku.
“ Pemikiran masyarakat desa sangat berbeda dengan pemikiran masyarakat kota. Lepas dari itu, ibu ingin kamu segera mengakhiri masa lajangmu. Teman-teman ibu, para tetangga, sering bertanya kapan Ratri menikah? Ibu harus bilang apa? Ibu malu Nduk! Ibu tertekan!”
Ibu tidak melanjutkan pembicaraannya. Tapi ibu juga tidak diam. Ibu tersedu-sedu dalam isak tangis. Aku pun ikut menangis. Untung ada Bapak yang segera melerai obrolan kami yang kian panas.
“Sudah, sudah. Kok jadi tangis-tangisan seperti sinetron saja. Yang sabar to Bu. Ratri pasti akan menikah. Ratri pasti akan membawa calon suaminya ke sini. Kita doakan saja. Iya to Nduk. Ya sudah, kamu ke kamar sana Nduk, biar Bapak yang menghibur ibumu.” Mendengar perkataan Bapak yang menyejukkan, laksana setetes air di gurun pasir, aku segera masuk kamar. Tidak lupa aku minta maaf pada ibu dan bapak.
Di kamar aku menangis sejadi-jadinya. Aku tertelungkup sambil memeluk guling. Bantalku basah oleh air mata. Aku heran, setelah menangis beban yang mengganjal di hatiku sedikit berkurang. Aku tidak sanggup menatap wajahku di depan cermin. Aku yakin, wajahku pasti sembab, dan kulitku yang putih, halus dan lembut(itu kata ibu) pasti memerah. Karena kelelahan akhirnya aku pun tertidur.
Entah sengaja, entah kebetulan, sejak peristiwa itu aku semakin menyibukkan diri dengan aktivitas di luar rumah. Selain mengajar dua sekolah, sorenya aku menjadi tutor kejar paket B.Padalah aku juga aktif di ekstrakurikuler. Praktis aku jarang di rumah. Kesibukan ini membuatku melupakan keteganganku dengan ibu. Biasanya pukul lima sore aku sudah kembali ke rumah. Orang tuaku melarangku beraktivitas di malam hari. Pukul lima semua anggota keluarga harus sudah kumpul di rumah. Selain karena aku seorang guru, aku juga seorang perempuan, bisa menimbulkan fitnah kalau malam hari masih melakukan aktivitas di luar rumah.. Melihat aku kelelahan setelah beraktivitas seharian, ibu tidak tega mengusikku dengan pertanyaan kapan aku akan membawa calon menantu untuk ibu? Aku merasa tenang. Hubunganku dengan ibu sudah kembali normal. Ketenangan ini terusik saat Ajeng sahabat karibku menikah. Dari raut muka ibu, aku tahu betapa tertekannya ibu. Selama ini ibu masih menolerirku karena Ajeng sahabatku sejak SMP belum menikah. Tapi saat menerima undangan dari Ajeng, ibu benar-benar terpukul. Aku tidak tahu harus berkata apalagi kepada ibu.
Sebagai sahabat sudah tentu aku ikut sibuk membantu menyiapkan pernikahan Ajeng. Kulihat ibu senang melihat kesibukanku bahkan ibu mendorongku untuk membantu Ajeng dan dandan yang cantik saat pernikahan Ajeng. Setelah resepsi pernikahan Ajeng selesai aku segera pulang dan merebahkan diri di tempat tidur, melepaskan penat yang terakumulasi selama hampir dua minggu.
Adzan shubuh berkumandang. Aku segera bangun. Tapi hidungku mencium aroma aneh. Kutajamkan penciumanku. Tidak salah lagi ini pasti aroma bunga. Benar-benar aneh. Perasaan, aku tidak pernah menaruh bunga di dalam kamar. Belum-belum pikiranku sudah mengembara. Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Aku bergegas wudhu dan segera menunaikan shalat Shubuh. Sehabis shalat Shubuh kucari-cari sumber bau itu. Ternyata di kolong ranjangku kutemukan bunga melati dan kenanga. Kulaporkan penemuanku ini pada bapak dan ibu.Ternyata reaksi bapak dan ibu begitu mengejutkan. Bapak tertawa-tawa sambil menepuk-nepuk punggung ibu. Sementara ibu cemberut. Tahulah aku apa yang terjadi.Ini pasti ulah ibu. Masih saja percaya pada tahayul seperti itu. Memang masyarakat daerahku masih berkembang keyakinan kalau bunga melati dan kenanga yang diambil dari keris mempelai pria dan diletakkan di kamar gadis maka akan mudah jodohnya.
“Sudahlah Nduk, tidak usah diambil hati. Ibu juga begitu sudah tahu anaknya tidak suka hal-hal yang berbau syirik kok masih saja dilakukan.”
“Namanya juga usaha Pak. Kalo kita tidak berusaha mana mugkin jodoh akan datang dengan sendirinya. Jumlah laki-laki jauh lebih sedikit dari jumlah perempuan. Apalagi jumlah laki-laki yang baik. Sangat sedikit Pak. Ini realitas yang tidak bisa kita tentang.”
“Bu, Bu, apa Ibu lupa kalau jodoh, rezeki, dan ajal itu ada di tangan Allah Swt. Kita memang harus berusaha tapi jangan sampai menggunakan jalan yang tidak diridhai Allah Swt. Seperti yang ibu lakukan tadi.”
Sejak peristiwa itu aku semakin sadar kalau ibu sangat mengharapkan jodoh bagi putrinya. Aku tidak tega melihat ibu terlalu lama menanggung malu. Aku pun berusaha untuk memenuhi harapan ibu asalkan tidak melanggar aturan agama. Aku mulai membuka diri, tawaran perkenalan dari beberapa teman mulai kuterima. Sudah tentu aku tanya dulu identitasnya secara lengkap. Kalau sekiranya ada kecocokan, baru tawaran itu kuterima. Dengan catatan sebatas kenalan dan tidak ada jaminan aku pasti menerimanya.Setelah perkenalan pasti aku konsultasikan dengan ibu, asal ibu menerima aku pasti menerima. Aku hampir putus asa. Bahkan aku menyerahkan jodohku pada bapak dan ibu, tapi beliau juga belum menemukan jodoh yang tepat untukku. Kurang inilah, kurang itulah. Karena ibu memang ingin mencarikan pendamping hidup yang sempurna untukku. Ibu mulai senang dengan keterbukaanku dan tidak terlalu menuntutku lagi. Ternyata ibu belum berkenan dengan calon-calon itu.
Saat aku berkenalan dengan Arwan. Ibu tidak setuju karena alasan yang sepele, tingginya kurang proporsional, masih tinggian aku. Ibu tidak mau nanti kami jadi perbincangan masyarakat.Ibu ingin laki-laki yang lebih tinggi dari aku, sehingga serasi jika dilihat. Setelah itu aku berkenalan dengan Firman. Ibu tidak setuju juga karena setelah menikah aku harus mengikutinya ke Bandung. Padahal ibu ingin aku selalu tinggal bersama beliau, karena kedua kakakku sudah tinggal di luar kota. Aku pun memakluminya, padahal aku sudah sangat cocok dengan Firman. Aku berprasangka baik saja. Mungkin belum jodoh. Aku yakin Allah Swt akan memberikan jodoh yang terbaik untukku. Yang cocok denganku juga dengan keluargaku. Karena pernikahan itu tidak sekadar menyatukan dua hati tetapi juga menyatukan dua keluarga. Terakhir aku berkenalan dengan Wisnu. Lagi-lagi orang tuaku menolaknya dengan alasan pekerjaannya belum mapan, masih honorer sepertiku. Tapi aku lega karena ibu sudah tidak menerorku lagi dengan pertanyaaan yang bisa membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, tapi bukti konkrit berupa calon menantu idaman.
Pagi ini seperti biasa setelah urusan dapur selesai, aku menyibukkan diri didepan komputer. Ada satu artikel yang harus kuselesaikan. Aku memang menjadikan hari minggu sebagai hari khusus untuk menulis. Maklum hari-hari lain tenaga dan pikiranku sudah habis terkuras. Lagi asyik-asyiknya menulis tiba-tiba Bapak memanggilku.
“Ratri, itu lho ada yang mencarimu, sana kamu temui dulu.”
Aku bergegas ke depan sambil merapikan bajuku. Aku tidak sempat berpikir siapa yang datang mencariku pagi-pagi gini. Paling-paling juga teman-teman atau mungkin murid-muridku.
Ketika aku menginjakkan kakiku di ruang tamu, mataku menatap sesosok wajah yang tidak asing lagi bagiku. Wajah itu pernah mengiasi ruang hatiku empat tahun yang lalu. Aku masih ingat betul kata-kata pisah yang diucapkan waktu kami sama-sama meninggalkan SMA
“Ratri, Aku tidak bisa berjanji apa-apa dengan kelanjutan hubungan kita.Kalau memang kita berjodoh insya Allah kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.Selamat ya kamu telah di terima di PTN favorit kamu. Aku sendiri alhamdulillah akan ikut paman ke luar kota. InsyaAllah aku akan kuliah sambil bekerja. Terima kasih atas kebersamaan kita selama ini. Dan maafkan jika aku sering melukai perasaannmu.Jangan lupa doakan aku ya.”
Sejak saat itu kami putus komunikasi. Kesibukan kuliah membuat aku melupakannya.Karena tidak ada reuni, praktis aku tidak tahu kabar beritanya. Dan tiba-tiba saat ini dia muncul di hadapanku.
“Assalamualaikum Pras.”
“Waalaikumsalam Ratri, aku datang untuk menepati janjiku. Semoga belum terlambat. Ini sedikit oleh-oleh untuk ayah dan ibu.”Aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Ini jawaban atas doa-doa kami selama ini. Menantu untuk ibu. Terima kasih ya Allah.
Posting Komentar