TERLAMBAT

Hari ini aku terlambat lagi. Sebuah prestasi yang membanggakan untuk seorang Adit. Tidak ada raut penyesalan di wajahku. Kulangkahkan kaki dengan penuh percaya diri saat memasuki gerbang sekolah. Kusapa dengan ramah guru BP yang nampak gusar melihat kehadiranku.
“Pagi ,Pak”
Beliau tidak menjawab sapaanku tetapi langsung menyodorkan buku catatan terlambat.Seperti biasa aku segera mengisinya dengan isi yang sama pada kolom alasan terlambat. Kutulis dengan bangun kesiangan. Alasan klasik bagi siswa yang terlambat. Hukuman yang sama pun ku terima. Aku harus membersihkan dan menyiram taman sekolah selama satu jam pelajaran. Dan jam keduanya Pak Beny sudah menunggu di ruang BP. Paling aku akan mendapatkan kultum yang bagiku hanyalah angin lalu. Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Mending melihat headline news di Metro TV yang selalu memberikan informasi yang up to date.
Kulaksanakan hukumanku dengan riang. Kubalas tatapan siswa yang berolahraga dengan senyuman. Edo, sahabatku yang terkenal paling badung di sekolah, tertawa terbahak-bahak sambil mengacungkan dua jempol ke arahku. Tidak cukup sampai di situ, dia menyilangkan jari telunjuknya di dahi. Aku tahu maksudnya. Edo pasti mengakui kegilaanku. Kali ini aku memang lebih gila dari dia. Konon Edo masih keder dan malu ketika diberi sanksi, apalagi kalau dilihat Wardah, cewek yang diidolakan Edo. Beda dengan aku. Urat Maluku sudah putus. Aku tak peduli pandangan siapapun . mau cowok, mau cewek, mau guru, mau siswa bahkan kepala sekolah sekalipun. Yang membuatku malu hanya satu, jika Ibu melihat kenakalanku. Tapi itu tak mungkin. Mustahil, mana mungkin orang mati hidup kembali? Ibuku telah meninggal setahun yang lalu. Inilah yang membuat haluan hidupku berubah. Ibarat kapal, kematian Ibu adalah badai terdasyat yang membuat kapal hampir karam.
“Assalamualaikum Pak.” Kuucapkan salam saat memasuki ruang BP. Ruang yang paling ditakuti anak-anak, ruang yang sering kumasuki akhir-akhir ini. Bagi siswa, guru BP adalah laksana satpol PP bagi pedagang kaki lima . Dan bagiku BP laksana villa tempatku melepas penat dari rutinitas yang membosankan.
“Waalaikumsalam, masuk Dit.” Jawab Pak Beny dengan ramah.
Aku segera masuk dan duduk di kursi depan Pak Beny. Tepat di depanku ada dua botol teh botol Sosro yang masih dingin, yang membuatku tiba-tiba dahaga seperti kucing yang tiba-tiba lapar saat melihat ikan asin.
“kamu pasti haus kan Dit. Ayo,silakan diminum tehnya mumpung masih dingin.” Kata Pak Beny tulus.
Tapi aku tak segera meminumnya. Strategi apa lagi yang akan digunakan Pak Beny untuk menundukkan kenakalanku. Sekali trouble maker ya selamanya trouble maker . Aku lebih suka dimarahi dan dibentak-bentak daripada diperlakukan sebaik ini.. Aku lebih puas dan bangga bisa membuat orang susah daripada membuat orang bahagia. Aku akan lemah ketika diperlakukan dengan baik dan aku akan makin kuat, liar dan tak terkendali saat orang lain memperlakukan aku dengan kasar. Aku hanya mengikuti kata hatiku, lebih tepatnya nafsuku untuk melakukan berbagai kesalahan semenjak Ibuku meninggal. Aku melihat kegagalan sebagai keberhasilan dan keberhasilan sebagai kegagalan.
“Loh, Dit kok malah melamun. Ayo, silakan diminum.”
Terpaksa aku membuyarkan lamunanku dan meminum teh botol sosro yang sedari tadi menggodaku untuk segera meminumnya. Pak Beny tidak menginterogasiku laksana kancil yang tertangkap basah saat mencuri timun. Beliau mengajakku ngobrol tentang berbagai berita aktual tentang perkembangan remaja akhir-akhir ini. Tentang hobiku, cita-citaku, dan keluargaku. Obrolan kami berhenti saat jam ketiga berbunyi. Sebelum aku meninggalkan BP, Pak Beny menepati janjinya dengan memberikan surat panggilan orang tua. Sebelumnya pak Beny memang telah memberiku ultimatum. Kalau sampai aku terlambat lagi maka beliau akan memanggil orang tuaku. Dan tadi aku sengaja terlambat lagi. Sempurna deh kenakalanku. Memang ini yang kuharapkan, panggilan orang tua. Aku ingin mempermalukan ayahku. Biar ayah tahu kalau aku tidak main-main dengan protesku.
“Jangan lupa ya Dit, diberikan pada ayah kamu suratnya. Bapak tunggu di sekolah besok pagi.”
“Beres Pak dan terima kasih teh botol sosronya. Yang sering-sering aja Pak.” Kataku sambil tersenyum seraya melangkahkan kaki menuju kelasku.
Bak selebritis yangs edang jumpa fans, aku melambaikan tangan dan kissby pada teman-teman sekelasku. Tak seperti biasanya kali ini teman-temanku hanya duduk manis sambil geleng-geleng kepala . Padahal biasanya mereka akan menyambutku dengan sorak sorai seakan menyambut kedatangan pejuang dari medan perang. Secara refleks aku menoleh saat ada yang menepuk punggungku. Eh ternyata Pak Guntur, guru terkiller di sekolahku. Oh iya sekarang kan pelajaran Matematika. Udah pelajarannya sulit, gurunya killer lagi. Sempurna deh bikin kami semakin alergi dengan Matematika.
“Adit, ini tas kamu yang ketinggalan di BP.”
“Ma .. ma .. makasih Pak, maaf merepotkan.” Jawabku agak terbata-bata. Tak kuhiraukan teman-temanku yang tergelak melihat kegugupanku.
Begitulah aku sekarang. Siswa paling populer di SMA Nusa Persada. Bukan karena ketampanan atau kepandaian tapi justru sebaliknya karena sepak terjangku membuat para guru pusing tujuh keliling. Siapa sih yang tidak kenal Adit. Siswa yang rajin terlambat , malas mengerjakan PR,suka ngeblong, jago nyontek, tetapi selalu remidi saat ulangan. Ulangan apa saja deh. Tapi jangan sampai deh remidi UNAS. Kan emang nggak ada atau belum diadakan remidi UNAS. Karena kalau UNAS pakai remidi bisa-bisa siswa se- Indonesia malas belajar dan lebih memilih remidi. Termasuk aku dong.
Oh ya ngomong-ngomong soal tampan, aku lumayan tampan lho, nggak kalah keren dengan Afgan atau duda keren Pasha Ungu. Buktinya banyak cewek yang pedekate denganku. Walaupun mereka tahu prestasiku seabrek dan menjadi pengunjung tetap BP. Kata teman-teman nih, bahkan kata guru-guruku juga, dari tampangku yang innocent, sama sekali nggak ada bakat nakal. Apalagi penampilanku juga rapi, berkacamata lagi. Aku juga tidak merokok lho. Walaupun begitu aku tetap menyandang predikat predikat sepuluh besar bahkan sekarang meningkat menjadi lima besar siswa terbandel di sekolahku, dengan seabrek aksiku di atas.
Sepulang sekolah aku mengikuti ajakan sahabat-sahabatku untuk bermain bilyard. Aku lebih sering jadi penonton daripada jadi pemain. Aku memang tidak bisa bermain bilyard dan aku juga tidak berusaha untuk mempelajarinya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu di luar rumah . Biasanya kalau pulang menjelang maghrib. Untuk apa pulang cepat, toh tidak ada yang menantiku di rumah, menyambutku di depan pintu dan menemaniku makan siang. Semakin aku mengingatnya, semakin luka hati ini. Dadaku terasa sesak oleh air mata yang yang selama ini kutahan. Aku laki-laki, pantang bagiku meneteskan air mata.
Seperti biasa aku pulang menjelang Maghrib. Seperti biasa juga rumahku tertutup rapat dan dibuka kembali saat kami selesai maghrib dan makan malam. Kubuka pintu rumah,ternyata terkunci. Kutekan bel berulang-ulang sambil memanggil Ayah. Panggilan yang jarang kuucapkan semenjak Ayah memutuskan untuk menikah lagi.
Aku jelas menentangnya. Bagiku Ibu tak tergantikan. Aku tidak memerlukan Ibu baru. Dan Ayah secara langsung tidak pernah memaksakan kehendaknya. Tapi ada perubahan dari sikap ayah. Beliau melampiaskan kekesalannya padaku dengan menyibukkan diri di kantor. Praktis frekuensi pertemuan kami berkurang. Kami layaknya orang asing. Aku selalu ogah-ogahan ketika Ayah mengajakku bicara. Paling-paling aku hanya menjawab dengan sepatah dua patah kata. Kosa kataku sudah habis, kalau tidak begitu aku meninggalkan Ayah dan segera membenamkan diri di dalam kamar.
Sebenarnya tidak hanya aku yang menolak Ayah menikah lagi. Mbak Tanti, kakakku satu-satunya, juga menolak. Tapi akhirnya Mbak Tanti justru mendukung rencana Ayah. Aku jadi ingat masa kecil kami. Setiap bertengkar aku selalu menyebut Mbak Tanti anak papa dan Mbak tanti balas mengejekku dengan menyebutku anak mama . Entahlah, Mbak Tanti lebh dekat dengan Ayah dan aku justru lebih dekat dengan Ibu. Kalau sudah begitu Ayah dan Ibu akan melerai kami. Ibu memeluk Mbak Tanti dengan penuh kehangatan dan ayah mengacak-acak rambutku dengan penuh kasih sayang. Kembali ke Mbak Tanti, dia justru memprovokatori aku untuk menyetujui rencana Ayah. Biar ada yang mengurus rumah, ada yang memasak, ada yang mencucikan baju Ayah dan teman berbagi cerita dengan Ayah. Semenjak meninggalnya Ibu, rumah memang tidak terurus. Mbak Tanti yang sekolah di kota hanya pulang seminggu sekali. Apalagi sekarang sudah kelas XII, banyak bimbingan dan try out yang harus diikuti sampai kadang-kadang pulang dua minggu sekali bahkan pernah sebulan baru pulang. Kalau Mbak Tanti tidak pulang, biasanya Ayah yang menjenguknya. Bunga-bungan juga layu tak terurus bahkan banyak yang mati. Padahal bunga-bunga ini kan kesayangan Ibu. Hanya Ibu yang rajin merawatnya. Aku kadang-kadang juga membantu memberi pupuk, memetik daun-daun yang sudah menguning dan menyiramnya. Kalau ayah sih paling rajin membeli bunga untuk Ibu. Setiap dinas ke luar kota Ayah selalu membawa buah tangan berupa bunga-bunga cantik untuk Ibu. Sedangkan Mbak Tanti walaupun katanya bunga itu identik dengan perempuan tapi kakakku ini tidak termasuk perempuan itu. Dia pilih enaknya saja, tidak mau merawat bunga tapi paling rajin memetik bunga-bunga yang bermekaran untuk hiasan kamarnya.
Aku tersadar dari lamunanku ketika Bude Bayu tetanggaku menghampiriku.
“Mas Adit ini kunci rumahnya. Kalau sudah selesai shalat dan makan di tunggu Eyang di rumah sakit.
“Memangnya siapa yang sakit Bude?”
“Bapaknya Mas Adit tadi siang kecelakaan dan sekarang dirawat di Rumah Sakit Budi Mulia.”
“Makasih ya Bude, Adit masuk dulu.”
Aku segera mandi. Kali ini kuikuti nuraniku dan bukan nafsuku untuk segera berwudhu. Kurasakan kesejukan air wudhu menembus pori-pori kulitku bahkan menerobos menyentuh relung jiwaku. Aku melakukan shalat maghrib dengan kusyuk. Kurasakan ketenangan yang luar biasa. Kupanjatkan doa untuk orang tuaku tercinta. Tanpa dapat kubendung air mataku menetes dan perlahan-lahan beban yang begitu menyesakkan dada berkurang dan tak tersisa.
Kulihat Ibu bergandengan dengan Ayah, menggunakan baju warna putih. Ibu kelihatan makin muda dan cantik.Ayah juga makin tampan. Wajah kedua orangtuaku memancarkan cahaya yang menyilaukan. Kupanggil mereka tapi tenggorokanku terasa terkunci. Suaraku tidak keluar. Ayah dan Ibuku terus berjalan, makin jauh dan jauh. Tapi aku tidak putus asa. Kukumpulkan semangat dan tenagaku yang masih tersisa.
“Ayah …. Ibu … !” Akhirnya keluar juga suaraku. Orangtuaku menoleh dan tersenyum manis padaku. Sesaat mereka memandangku. Ya …hanya sesaat. Kemudian melambaikan tangan dan kembali merajut langkah menuju pusat cahaya yang begitu menyilaukan yang pernah kulihat
Kali ini aku berteriak lebih keras lagi “Ayah …. Ibu … !”
Aku tersadar saat telepon rumah berdering. Rupanya aku tertidur setelah shalat Maghrib. Ah … mimpiku itu seakan nyata. Aku merindukanmu Ibu. Maafkan aku Ayah, yang telah menyusahkanmu. Aku tidak mau kehilangan orang tuaku untuk kedua kalinya. Aku harus minta maaf pada Ayah atas sikapku selama ini yang berlebihan. Aku juga akan mengizinkan Ayah menikah lagi, aku ingin istana kecilku ini memiliki ratu lagi agar keindahannya tetap terjaga. Aku ingin Ayah bahagia, aku tidak ingin Ayah kesepian di hari tuanya. Dan lagi aku mengenal baik calon istri Ayah. Aku biasa memanggilnya Tante Wanda. Beliau sahabat Ayah dan Ibuku saat masih kuliah. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan. Beliau tidak memiliki putra. Aku bergegas mengangkat telepon. Aku tidak mau terlambat lagi.
Oleh: Retno Kurniawati, S.Pd.
Guru SMAN 1 Padangan-Bojonegoro
Share this article :

Posting Komentar

 
Support Download CV
Copyright © 2011 Safira All Rights Reserved